Jumat, 09 Maret 2012

Hakikat Manusia & Kodrat Manusia

Hakekat manusia

A. Pendahuluan
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi.
Manusia dapat diartikan sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Manusia memiliki ciri khas yang prinsipil dengan makhluk ciptaan tuhan lainnya. Misalnya ciri khas manusia dari hewan, terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang disebut dengan sifat hakikat manusia. Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Pembahasan tentang hakikat manusia ditempatkan pada bagian pertama dari seluruh pengkajian tentang pendidikan.
Tujuan dari pembelajaran ini adalah : Siswa dapat memahami materi secara saksama sehingga dapat:
Menuliskan sifat hakikat manusia yang membedakannnya dari hewan.
Menjelaskan arti dari masing-masing sifat hakikat manusia
Menjelaskan hubungan antara sifat hakikat manusia.
Menuliskan empat macam dimensi hakikat manusia.
Mendeskripsikan ciri utama dari masing-masing dimensi hakikat manusia.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Bukti paling kongkrit yaitu manusia memiliki kemampuan intelegesi dan daya nalar sehingga manusia mampu berifikir, berbuat, dan bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan sebagai manusia yang utuh. Kemampuan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan lainnya. Dalam kaitannya dengan perkembangan individu, manusia dapat tumbuh dan berkembang melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik itu bersifat jasmani maupun bersifat rohani. Oleh sebab itu manusia memerlukan pendidikan demi mendapatkan perkembangan yang optimal sebagai manusia.

B. Sifat hakikat manusia
Pengertian sifat hakikat manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang membedakan manusia dengan hewan.  Meskipun antara manuaia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemikan . teori evolusi yang berjuabg untuk menemikan bahwa manusia berasal dari hewan primata yaitu kera telah gagal atau tumbang.
Bebrapa pandangan mengenai pengertian pokok tentang hakikat manusia:
Pandangan psikoanalitik
Hansen, Stevic, dan Warner  mengemukakan bahwa tingkah laku manusia  digerakkan oleh dorongan-dorongan yang bersifat instingtif, tingkah lakunya dikontrol oleh  kekuatan psikologis yang sejak semula telah ada pada diri manusia. Kemudian Freud mengemukakan bahwa  struktyr kepribadian seseorang meliputi tiga komponen, yaitu id, ego, dan super ego.
Pandangan humanistik
Pelopor pandangan ini adalah  Rogers dan Adler . menurut Rogrs, manusia mampu  engarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampi mengatur dan mengontrol dirinya, dan untuk berbagai hal mampu menentukan nasib sebdiri, barulah manusia itu bebas dari kecemasan dan kelgelsahan serta menjadi anggota masyarakat yang baik. Selanjutnya Roger mengemukakan pada hakikatnya gambaran pribadi manusia selalu dalam proses manjadi, merupakan satu kesatuan potensi yang terus menerus erubah dan berkembang, tidak pernah selesai dan tidak pernah sempurna.
Sementara itu menurut Adler manusia dalam hidupnya digerakkan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu, dan sebagian lagi oleh tanggung jawab sosial dalam membantu orang lain dan membuat  dalam membuat dunia ini lebih baik untuk ditempati.
Pandangan Martin Buber
Martin Buber mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk yang cerdik. Keberadaan manusia merupakan keberadaan yang berpotensi yang terbatas secara faktual, tidak mendasar tapi dapat terus menerus dikebangkan. Perkembangan manusia sulit diramalkan dan manusia menjadi pusat ketidak terdugaan yang amat kuat kekangannya
Pandangan Behavioristik
Pelopor pandangan behavioristik adalah Hansen dan Skinner. Menurut Hansen, lingkungan adalah penentu tunggal dari tingkah laku manusia, dan tingkah laku ini merupakan kemampuan yang dipelajari. Perkembangan kepribadian manusia hanya tergantung kepada lingkungannya. Pandangan  Behavioristik sering mendapat kritikan sebagai pandangan yang merendahkan derajat manusia karena mengingkari kemampuan yang amat penting pada manusia.
Selanjutnya Skinner membantah kritik ini sebab semua perwujudan tingkah laku manusia, berkembangnya tidak berbeda dengan tingkah laku yang lain. Pendekatan pandangan Behavioristik adalah pendekatan ilmiah. Semua kemamuan tangkah laku manusia harus dapat didekati  dan dianalisis secara ilmiah.
Pandangan pancasila
Pandangan yang menyeluruh tentang manusia seyogjanya tidak menekankan salah satu atau beberapa aspek dari ciri-ciri hakikat manusia. Dalam hal ini, di Indonesia  dikenal pengertian manusia seutuhnya. Menurut Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila manusia mempunyai keonginan unutuk mempertahankan hidup dan menjaga kehidupan yang lebih baik. Ini merupakan naluri yang paling kuat dalam diri manusia. Pancasila sebagai palsafah hidup manusia indonesia memberikan pedman bahwa kehidupan manusia akan tercapai apabila kehidupan manusia didasasarkan atas keselarasan, keserasian, keseimbangan, baik dalam hodup manusia sebagai pribadi, hubungan manusia dengan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan bangsa dan bangsa, dan hubungan manusia dengan tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah
      Ragam pemahaman tentang hakikat manusia, sbb:
Homo Religius
Pandangan tentang sosok manusia dan hakikat manusia sebagai makhluk yang beragam. Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya. Melalui kesempurnaannya itulah manusia bisa berfikit, bertindak, berusaha dan bisa manentukan mana yang baik dan benar. Disisi lain manusia meyakini bahwa ia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan sang pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia, pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius yang mempercayai adanya sang maha pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.
Homo Saphien
Pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk yang bijaksana dan dapat berfikir atau sebagai animal rational. Hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi dan paling mulia. Hal ini disebabkan oleh manusia karena memiliki akal, pikiran, rasio, daya nalar, cipta dan karsa, sehingga manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya. Manusia sebagai suatu organisme kehidupan dapat tumbuh dan berkembang, namun yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah manusia memiliki daya pikir sehingga ia bisa berbicara, berfikir, berbuat, belajar, dan memiliki cita-cita sebagai dambaan dalam menjalankan kehidupannya yang lebih baik.
Homo Faber
Pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk yang berpiranti (perkakas). Manusia dengan akal dan ketrampilan tangannya dapat menciptakan atau menghasilkan sesuatu (sebagai produsen) dan pada pihak lain ia juga menggunakan karya lain (sebagai konsumen) untuk kesejahteraan dan kemakmuran hidupnya. Melalui kemampuan dan daya pikir yang dimilikinya, serta ditunjang oleh daya cipta dan karsa, manusia dapat berkiprah lebih luas dalam tatanan organisasi
Homo Homoni Socius
Kendati manusia sebagai makhluk individu, makhluk yang memiliki jati diri, yang memiliki ciri pembeda antara yang satu dengan yang lainnya, namun pada saat yang bersamaan manusia juga sebagai kawan sosial bagi manusia lainnya. Ia senantisa berinteraksi dengan lingkungannya. Ia berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu masyarakat tertentu. Walaupun terdapat pendapat yang berlawanan, ada yang menyebut manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus). Pemahaman yang terakhir inilah yang harus dihindarkan agar tidak terjadi malapetaka dimuka bumi ini.
Manusia sebagai makhluk etis dan estetis
Hakikat manusia pada dasarnya adalah sebagai makhluk yang memiliki kesadaran susila (etika) dalam arti ia dapar memahami norma-norma sosial dan mampu berbuat sesuai dengan norma dan kaidah etika yang diyakininya. Sedangkan makna estetis yaitu pemahaman tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa keindahan (sense of beauty) dan rasa estetika (sense of estetics). Sosok manusia yang memiliki cita, rasa, dan dimensi keindahan atau estetika lainnya.

Pendapat lain mengenai Hakekat Manusia adalah sebagai berikut :
1. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnyauntuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
3. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8.  Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak dapat berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan  sosial.






C. Wujud sifat hakikat manusia
1. Kemampuan menyadari diri
Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki manusia , maka manusia menyadari bahwa dirinya memilik ciri khas atau  mempunyai karakteristik yang membedakan dirinya dengan makhluk yang lain. Bahkan manusia dapat membuat jarak dengan lingkungannya, baik yang berupa pribadi ataupun non pribadi/benda. Orang lain merupakan pribadi yang ada disekitar, ada pun pohon,, batu, cuaca,merupakan lingkungan non pribadi.
2. Kemampuan bereksistensi
Manusia tidak terbelenggu oleh tempat atau ruang dan waktu, tetapi dapat menembus ke “sana”, dan ke “masa depan” ataupun masa lampau. Kemampuan menempatkan diri dan menerobos inilah yang disebut kemampuan bereksistensi. Justru karena kemampuan bereksistensi inilah maka pada manusia terdapat unsure kebebasan. Adanya kemampuan bereksistensi ini pula yang membedakan manusia sebagai makhluk human dari hewan atau makhluk infra human.
3.Pemilikan kata hati
Kata hati atau conscience of human juga sering disebut dengan istilah hati nurani, lubuk hati, suara hati, pelita hati, dan sebagainya. Dengan sebutan pelita hati atau hatu nurani  menunjukkan bahwa kata hati itu adalah kemampuan pada diri manusia yang member penerangan tentang baik buruknya perbuatan sebagai manusia.
4. Moral
Jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan, maka yang dimaksud dengan moral adalah perbuatan itu sendiri. Seseorang dikatakan bermoral tinggi apabila ia menyatukan diri dengan nilai-nilai yang tinggi (nilai yang baik dan diterima masyarakat).
5. Kemampuan bertanggung jawab
Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab, merupakan pertanda dari orang yang bersifat bertanggung jawab. Ada tanggung jawab kepada diri sendiri, tanggung jawab kepada masyarakat, dan tanggung jawab kepada tuhan. Kata hati, moral, dan tanggung jawab mempuyai hubungan yang sangat erat.
6. Rasa kebebasan
Merdeka adalah rasa bebas (tidak merasa terikat oleh sesuatu), tetapi sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Bebas berbuat  sepanjang tidak bertentangan dengan tuntutan kodrat manusia.
7. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
Kewajiban dan hak adalah dua macam dari gejala yang timbul sebagai manifestasi dari manusia sebagai makhluk social. Yang satu ada hanya oleh karena adanya yang lain. Tak ada hak tanpa kewajiban. Realisasi hak dan kewajiban dalam prakteknya bersifat relatife, sesuai dengan situasi dan kondisi. Sebab tak ada kewajiban untuk melaksanakan hal yang mustahil. Kemampuan menghayati kewajiban sebagai keniscayaan tidaklah lahir dengan sendirinya, tetapi bertumbuh melalui proses. Usaha menumbuhkembangkan rasa wajib sehingga dihayati sebagai suatu keniscayaan dapat ditempuh melalui pendidikan disiplin.
8. Kemampuan menghayati kebahagiaan
Kebahagiaan adalah suatu istilah yang lahir dari kehidupan manusia. Penghayatan hidup yang disebut “kebahagiaan” ini meskipun tidak mudah untuk dijabarkan tetapi tidak sulit untuk dirasakan.. kebahagiaan itu tidak terletak pada keadaan sendiri secara factual ataupun pada rangkaian prosesnya, maupun pada perasaan yang diakibatkan tetapi terletak pada kesanggupan menghayati semuanya itu dengan keheningan jiwa.

D. Dimensi-dimensi hakikat manusia
1. Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk individu secara etimologi diartikan sebagai berikut:
-Manusia; berarti mahluk yang berakal budi dan mampu menguasai mahluk lain.
-Mahluk; yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.
-Individu; mengandung arti orang seorang, pribadi, organisme yang hidupnya berdiri sendiri. Secara fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan   organik dengan sesama.
Lysen mengartikan individu sebagai “orang-seorang”, sesuatu yang merupakan satu keutuhan yang tidak dapat di bagi-bagi (in divide). Selanjutnya individu diartikan sebagai pribadi. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi, baik pada sifat-sifat fisiknya maupun hidup kejiwaannya. Dikatakan bahwa setiap individu bersifat unik.
2. Dimensi Kesosialan
Setiap bayi yang lahir dikaruiai potensi sosialitas (M.J. Langeveld, 1955: 54). Artinya setipap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya didalamnya terdapat unsur saling member dan menerima.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Immanuel kant  seorang filosof tersohor bangsa jerman mengatakan : manusia hanya menjadi manusia jika berada di antara manusia. Seseorang hanya dapat mengembangkan individualitasnya di dalam pergaulan social. Hanya didalam berinteraksi dengan sesamanya, dalam saling menerima dan member, seseorang menyadari dan menghayati kemanusiaannya.
3. Dimensi kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Pengertian susila secara lebih luas mempunya arti “kebaikan yang lebih”. Dalam bahasa ilmiah sering digunakan dua macam  istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan).
Sehubungan dengan hal tersebut ada dua pendapat, yaitu:
Golongan yang menganggap bahwa kesusilaan mencakup kedu-duanya.
Golongan yang memandang bahwa etiket perlu dibedakan dari etika.
Di dalam uraian ini kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai.
4. Dimensi keberagamaan
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius. Sejak dahulu kala sebelum manusia mengenal agama, mereka telah percaya bahwa diluar alam  yang dapat dijangkau dengan perantaraan alat inderanya, diyakini adanya kekuasaan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut diciptakanlah mitos-mitos.
Kemudian setelah adanya agama, manusia menganutnya. Beragama merupakan kebutuhan manusia  karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat untuk bertopang. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandarac vertical manusia.

Pengembangan dimensi hakikat manusia
1. Pengembangan yang utuh
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua factor, yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan  kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan layanan atas perkembangannya.
2. Pengembangan yang tidak utuh
Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi didalam proses pengembangan ada unsur dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan ada unsur dimensi hakikat  yang terabaikan untuk ditangani. Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang tidak mantap.

Kodrat manusia
Mengamati kodrat manusia:
Terlepas dari agama mana pun yang ada didunia, yang jelas manusia itu menyadari bahwa kehadirannya di muka bumi ini adalah karena proses penciptaan dan kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Baik atau jahatnya peranan yang dimainkan oleh manusia dalam kehidupan ini, pada dasarnya manusia itu tahu dan menyadari bahwa dirinya akan meninggal dan menutup usia. Intinya manusia hidup di muka bumi ini hanya sementara saja. Keberadaan manusia di muka bumi ada karena dilahirkan, kemudian melalui pernikahan manusia semakin berkembang sampai akhir zaman nanti yang disebut kiamat.
Kemudian, dalam kehidupan dikenal adanya ujian dan cobaan yang merupakan kodrat manusia sebagai makhluk yang berproses menuju puncak perbaikan diri. Oleh karenanya ujian dan cobaan menjadi suatu keharusan buat manusia, terutama bagi orang yang terlalu lemah dalam menguasai jiwa dan pikirannya sendiri sehingga ia suka menempatkan dirinya di atas segalanya.
Dalam agama islam keberadaan manusia dimuka bumi semata-mata hanyalah untuk beribadah kepada Allah dengan menjadi khalifah di muka bumi. Lahir, Hidup, dan Mati – merupakan kodrat alami manusia yang tiada dapat ditolak ataupun dihindari. Kita tidak akan pernah dapat memilih untuk dilahirkan dimana, kapan, bagaimana dan oleh siapa. Kita tidak akan pernah dapat memilih anak kita, sebagaimana kita juga tidak akan pernah dapat memilih orang tua kita. Semua terjadi begitu saja. Sejak keyakinan tentang adanya manusia pertama di bumi, yang dijelaskan oleh beberapa agama di dunia, secara turun-temurun, dari generasi ke generasi.
Kodrat manusia terlahir di dunia fana ini adalah untuk mencari jati diri yang hakiki. Satu diantaranya tanpa kita sadari tentang kekeliruan dan kekurangan pada diri sendiri. Seperti halnya kita bernafas, khilaf itu terjadi begitu saja.
Kodrat Manusia di muka bumi ini adalah sebagai makhluk yang dapat menjaga sekaligus perusak bumi sendiri. Manusia bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan kelestarian bumi. Semua tugas itu hanya diembankan Sang Pencipta kepada manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna,  yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk lainnya, manusia juga mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya yang kompleks melalui proses belajar yang terus-menerus. Selain itu manusia diktakan pula sebagai makhluk budaya. Budaya diartikan sebagai pikiran atau akal budi (Pusat Bahasa Diknas, 2001: 169).

Manusia bersifat budaya, merupakan alur perkembangan berdasarkan struktur dari kodrat manusia. Seandainya saja manusia tidak dapat mencapai kebudayaan, maka bukan saja manusia itu dikucilkan dari kebudayaannya, tapi juga tidak akan mencapai kodrat kemanusiaannya.
Kebudayaan adalah perkembangan yang khas manusiawi yang berasal dari penggunaan intelegensia dan kebebasan, dan yang justru memungkinkan manusia menjadi manusia benar-benar. Kebudayaanlah yang memberikan kepada manusia kekayaan yang khas baginya dan menampakkan dengan jelas tendensinya sebagai dimensi yang konstitutif. Dalam arti itu,kebudayaan sama dengan peradaban.

1 komentar: